Sabtu, 9 Januari 2010 | 17:28:15
Bandung, Sumutcyber- Setelah di Samarinda, giliran sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) Bandung mengecam film 'Suster Keramas' yang sudah beredar tayang di sejumlah bioskop di Kota Kembang itu. Film yang salah satu bintangnya 'artis panas' asal Jepang, Rin Sakuragi, itu dianggap mengandung adegan syur alias porno.
Ketua FSLDK Bandung Raya, Adi Suandika, di sela unjuk rasa di Gedung Sate, kemarin (8/1) secara tegas mendesak agar penayangan film 'Suster Keramas' dihentikan karena berdampak buruk terhadap masyarakat. "Film Suster Keramas sangat tidak layak ditonton. Dikhawatirkan, akan berdampak terhadap perilaku masyarakat. Apalagi, tidak sedikit kasus kejahatan seksual yang terjadi, pemicunya antaralain disebabkan karena tayangan porno," ujarnya.
Film yang dari luarnya dikemas dalam bentuk komedi dan honor tersebut dibintangi oleh artis porno asal Jepang yaitu Rin Sakuragi. Sekedar diketahui, Sakuragi merupakan artis porno kedua terpopuler di Jepang setelah Maria Ozama alias Miyabi yang sebelumnya ditolak kedatangannya ke Indonesia.
Sebelumnya, kecaman juga dilontarkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Samarinda yang menolak pemutaran film yang dibintangi bintang porno asal Jepang tersebut.
Alasannya, film ini lebih banyak menonjolkan tayangan berbau erotis dan mistis sehingga tidak ada unsur edukatif dalam film ini. MUI pun telah mengirim surat kepada KPI (Komisi Penyiaran Indonesia).
Ada lima point yang jadi keberatan MUI. Pertama, kata keramas mengandung konotasi mandi sehabis bersetubuh. Kedua, pemeran film tsb adalah Rin Sakuragi yang seperti juga Miyabi adalah bintang porno asal Jepang. Ketiga, Film suster keramas lebih banyak menonjolkan adegan syur yang dibuktikan adanya adegan seorang wanita membuka pakaian di depan dua orang lelaki. Keempat, film tersebut banyak menayangkan adegan vulgar. Kelima, film tersebut bisa merusak akhlak masyarakat.
Adi Suandika berharap Lembaga Sensor Film harus lebih selektif. Bagaimanapun, katanya, ini berkaitan dengan akhlak generasi muda kedepan. "Peredaran film Suster Keramas sangat ironis. Pasalnya, saat ini bangsa Indonesia tengah gencar-gencarnya memerangi pornografi dan pornoaksi. Bahkan, UU Pornografi dan Pornoaksi pun sudah disahkan," ujarnya.
Dikatakan, banyak tayangan film positif yang juga sangat layak jual. "Lantas kenapa memproduksi film porno?" ujarnya heran. Dia mengingatkan pihak yang memproduksi film 'Suster Keramas' sadar diri dan mau memperhatikan apa manfaat film tersebut bagi masyarakat. "Sehingga, bukan atas dasar pertimbangan keuntungan materi semata.Derajat perempuan telah dilecehkan dengan adanya film porno. Tidak ada alasan lagi bagi pihak terkait untuk segera mencabut penayangan Suster Keramas di sejumlah bioskop,” tegasnya. (dni,sam/jpnn)
sumber :
http://www.sumutcyber.com/?open=view&newsid=8033&cat=62&pid=6